Tampilkan postingan dengan label Kedokteran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kedokteran. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Juni 2011

Nilai Diagnostik Pemeriksaan Imunositokimia Limfosit Sediaan Apus Darah Tepi Dibandingkan Analisis Kromosom Pada Penderita Dengan Dugaan Sindroma Fragile X

Abstract

Sindroma Fragile X merupakan penyebab utama retardasi mental. Diagnosis Fragile X dapat ditegakkan dengan analisis kromosom dan molekuler. Fragile X Mental Retardation Protein (protein FMRP) adalah molekul yang berperan dalam metabolisme mRNA. Protein ini terletak di sitoplasma dan terekspresikan secara luas pada banyak sel. Pemeriksaan imunositokimia dapat mendeteksi adanya protein FMRP di sitoplasma limfosit. Tujuan : Untuk mengetahui sensitivitas, spesifisitas, nilai ramal positif dan negatif, serta rasio likelihood dari tes imunositokimia limfosit pada sediaan apus darah tepi (SADT). Bahan dan metoda : Sebanyak 20 sampel diambil secara konsekutif dari siswa SLB di Semin Gunung Kidul. Kriteria inklusi adalah siswa pria berumur > 7 tahun, penderita retardasi mental ringan sampai sedang, bukan penderita sindroma Down, tidak menderita malformasi multipel, dan bukan penderita bisu tuli. Darah vena berheparin dikultur di media rendah folat TC 199 dan MEM + thymidine untuk melihat ekspresi fragile site. Protein FMRP di sitoplasma limfosit diperiksa dengan imunositokimia menggunakan antbodi monoklonal terhadap FMRP. Hasil pemeriksaan protein FMRP limfosit pada SADT dibandingkan dengan analisis kromosom yang digunakan sabagai baku emas. Selanjutnya data dimasukkan dalam tabel 2 x 2 dan dihitung sensitivitas, spesifisitas, nilai ramal positif dan negatif, serta rasio likelihood. Hasil : Pemeriksaan imunositokimia limfosit di SADT mempunyai sensitivitas 93,33%, spesifisitas 40%, nilai ramal positif 83,25% dan nilai ramal negatif 66,66%. dalam mendeteksi sindroma Fragile X. Rasio likelihood positif dari pemeriksaan imunositokimia adalah 1,55 sedangkan rasio likelihood negatifnya adalah 0,16 Simpulan : Pemeriksaan imunositokimia limfosit di SADT mempunyai sensitivitas dan nilai ramal positif tinggi, namun mempunyai spesifisitas, nilai ramal negatif dan rasio likelihood positif yang rendah. Pemeriksaan imunositokimia limfosit di SADT dapat digunakan untuk uji saring penderita sindroma Fragile X.

Rumusan Masalah :
Dengan memperhatikan masalah tersebut di atas, dapat dirumuskan 
masalah penelitian sebagai berikut: berapakah nilai diagnostik pemeriksaan 
imunositokimia limfosit pada sediaan  apus darah tepi dibandingkan dengan 
analisis kromosom pada penderita dengan dugaan  sindroma Fragile X ?

Kamis, 02 Juni 2011

Perbandingan Pemberian Formula 100 Dengan Formula Kedelai Terhadap Pertumbuhan Anak Prasekolah

Abstract
Latar belakang : Anak prasekolah merupakan kelompok anak yang rawan mengalami gangguan pertumbuhan. Formula 100 dan formula kedelai adalah makanan tambahan padat gizi dengan harga terjangkau namun jarang digunakan sebagai tambahan gizi pada anak. Tujuan Penelitian : mengetahui pengaruh formula 100 dan formula kedelai terhadap pertumbuhan anak prasekolah. Metode : Penelitian ini merupakan uji klinis Quasi experimental dengan desain menyilang, dilakukan di Kecamatan Semarang Utara dan Tembalang Kota Semarang yang merupakan daerah dengan tingkat sosial ekonomi menengah kebawah. Subyek sebanyak 96 anak prasekolah berusia 4-7 tahun. Kelompok A kecamatan Tembalang (47 anak) mendapatkan 200 ml formula 100 selama 1 bulan kemudian dilakukan wash out selama 6 minggu kemudian mendapatkan 200 ml formula kedelai selama 1 bulan. Kelompok B kecamatan Semarang Utara (49 anak) mendapatkan sebaliknya. Berat badan diukur tiap minggu dengan timbangan digital. Tinggi badan diukur pada awal dan akhir penelitian dengan mikrotoise. Data dianalisis dengan uji t untuk data dengan distribusi normal dan uji Mann Whitney U untuk data dengan distribusi tidak normal. Hasil : Sesi pertama ( sebelum wash out ) Kelompok formula 100 rerata penambahan WAZ : 0,03 SD, HAZ : 0,03 SD dan WHZ: 0,03 SD, pada kelompok kedelai rerata penambahan WAZ : 0,03 SD, HAZ : 0,01 dan WHZ : 0,05 SD. Dari hasil analisis kedua kelompok tidak berbeda bermakna. Akseptabilitas formula 100 kriteria baik 94%, kurang 6%; sedang formula kedelai kriteria baik 58%, kurang 42%. Dari analisis terdapat perbedaan bermakna. Sesi kedua ( sesudah wash out ) Kelompok formula 100 rerata penambahan WAZ : 0,14 SD, HAZ : 0,02 SD dan WHZ: 0,2 SD, pada kelompok kedelai rerata penambahan WAZ : 0,10 SD, HAZ : 0,03 dan WHZ : 0,16 SD. Dari hasil analisis kedua kelompok tidak berbeda bermakna. Akseptabilitas formula 100 kriteria baik adalah 88%, sedangkan kriteria kurang adalah 12%; sedang formula kedelai kriteria baik adalah 77%, sedang kurang adalah 23%. Dari analisis tidak terdapat perbedaan bermakna. Kesimpulan : Tidak terdapat perbedaan antara pemberian Formula 100 dengan formula kedelai selama 1 bulan terhadap pertumbuhan anak.


Rumusan Masalah :


1.2.1.  Apakah pemberian formula 100 akan memberikan pertumbuhan yang 
sebanding dengan formula kedelai pada anak prasekolah ? 
1.2.2.  Apakah  formula 100 lebih disukai dibandingkan formula kedelai pada 
anak prasekolah ? 

Senin, 30 Mei 2011

Korelasi Jumlah Netrofil, Limfosit Dan Monosit Dengan Kadar Albumin Urin Pada Pasien Dm Tipe–2 Dengan Mikroalbuminuria

Abstract
Latar belakang – Prevalensi DM tipe-2 di berbagai penjuru dunia termasuk di Indonesia meningkat. Komplikasi DM terbanyak adalah nefropati, yang merupakan penyakit progresif dan pada tahap akhir memerlukan biaya perawatan yang sangat besar. Nefropati DM dapat dicegah jika dilakukan deteksi dini. Mikroalbuminuria merupakan tes untuk deteksi dini nefropati DM saat ini, tetapi tes ini masih dianggap mahal oleh sebagian besar masyarakat dan belum banyak dilakukan oleh laboratorium di daerah. Oleh sebab itu perlu dicari alternatif tes lain, misalnya jumlah netrofil, monosit dan limfosit. Tujuan – Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan hubungan antara jumlah netrofil, limfosit dan monosit dengan kadar albumin urin pada pasien DM tipe2 dengan mikroalbuminuria. Metode dan desain penelitian – Desain penelitian analitik observasional dengan pendekatan belah lintang. Responden pasien DM tipe2 dengan mikroalbuminuria dari rawat jalan laboratorium RSDK kadar CRP kualitatif: negatif (<10mg/L), jumlah lekosit antara 7.000–10.000/ml, tidak didapatkan flagging atau limfosit varian, albumin urin dengan dipstik : negatif, Glukosa Puasa/2 jam PP < 200mg/dl, urinalisis dalam batas normal, tekanan darah sistolik: 100-160 mmHg; diastolik 70-85 mmHg, Suhu badan 36-37,2 0C, lama menderita DM > 5 tahun, anamnesis tidak didapatkan penyakit ginjal. Jumlah sampel 22 diperiksa kadar albumin urin dengan menggunakan reagen NycoCard®U-ALBUMIN, jumlah netrofil, limfosit dan monosit diperiksa dengan menggunakan alat hematologi analizer CELL-DynR 3700. Korelasi antara jumlah netrofil, limfosit dan monosit dengan kadar albumin urin dianalisa dengan koefisien korelasi Spearman’s. Hasil – Tidak terdapat korelasi antara jumlah netrofil dengan kadar albumin urin (r= - 0,250;p=0,263). Tidak terdapat korelasi antara jumlah monosit dengan kadar albumin urin (r= -0,191;p=0,395). Tidak terdapat korelasi antara jumlah limfosit dengan kadar albumin urin (r=0,130;p=0,565) pada pasien DM tipe2 dengan mikroalbuminuria. Kesimpulan – Tidak terdapat korelasi antara jumlah netrofil, limfosit dan monosit dengan kadar albumin urin pada pasien DM tipe2 dengan mikroalbuminuria.


Rumusan Masalah :



Dengan  memperhatikan latar belakang di atas, dapat dirumuskan 
masalah penelitian sebagai berikut :  apakah ada korelasi antara jumlah netrofil, 
limfosit dan monosit  dengan kadar albumin urin pada penderita DM tipe2 dengan 
mikroalbuminuria? 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Isi Buku Tamu Ya....!


ShoutMix chat widget
 
Powered by Blogger